Bahagia. Satu kata, tujuh huruf, bermakna sejuta. Relatif sih memang ukuran kebahagiaan seseorang, tergantung bagaimana seseorang menikmati dan mensyukuri apa yang dia dapat. Ada yang berpikir bahwa bahagia itu "punya uang banyak". Ada juga yang menjawab bahagia itu "kehangatan keluarga". Dan banyak lagi bahagia - bahagia lain. Tidak perlu munafik, saya setuju dengan pendapat pertama. Memang, uang bukan segalanya. Tapi di zaman seperti ini, siapa yang tidak butuh uang? Logikanya, jika banyak uang, kita juga bisa membahagiakan orang lain, siapapun itu. Lalu, saya menoleh ke seberang.
Saya lihat, mereka memiliki banyak uang. Saya masuk ke dalam, lalu saya belum merasa tentram. Saya mencoba mencari tahu dengan kepolosan saya, apa yang kurang? Mobil satu anggota satu. Gadget mewah. fasilitas lengkap, tapi... kenapa dingin? Saya terus telusuri. Oh saya tahu. seketika saya merubah pendapat saya. Yang paling penting adalah kehangatan keluarga. Percuma juga jika banyak uang, tapi saat kembali ke rumah, hanya melihat bapak sibuk menonton gadgetnya, ibu sibuk di dapur dan saudara pergi entah kemana. Bayangkan jika di suatu rumah, satu jam satu keluarga berkumpul membicarakan harinya. "Tadi bapak ketemu orang di kantor begini loh....." "gimana masakan ibu? enak tidak?" "pak, bu, tadi aku dapat nilai 100 loh!". Terasa kan? *jadi kangen rumah*. Lalu saya pergi dari tempat itu, menyusuri jalan sambil berpikir lagi.
"Memang tak mungkin ada yang menggantikan kehangatan rumah. Tapi, tak mungkin kita selamanya dirumah. Suatu saat, saya harus pergi, mencari teman untuk membuat rumah yang baru". Lalu saya menambah pemahaman saya. Kebahagiaan itu adalah menemukan teman yang pas. Yang belajar hal baru hanya untuk membuat obrolan menarik. Yang merubah dirinya untuk membuat saya bahagia dan menempatkan saya di posisi "tidak perlu khawatir". Yang ikut menemani menonton bola, mendengar Alesana bersama atau ikut menonton film yang sebenarnya tidak dia suka. Indah sepertinya. Lalu saya terhentak dan kembali berpikir, "berarti, teman saya ini bukan dia yang sebenarnya. Dia hanya peran dari film hati saya". Saya merenung di kursi sambil menyeruput kopi dan kembali memperluas pandangan saya.
Akhirnya saya tiba pada suatu titik bahwa bahagia itu adalah bersyukur dan mengerti. Belajar melihat kebawah. Berapapun uang yang kita punya, jika kita bersyukur dan melihat kebawah, uang itu akan terasa cukup atau bahkan lebih. Bersyukur terhadap bagaimanapun keluarga kita. Karena ternyata banyak bayi lahir tanpa keluarga. Banyak orang menggantungkan hidupnya di jalan. Dan mengerti. Siapapun dan bagaimanapun nanti teman kita, mereka dikirim bukan untuk membuat apapun terasa mudah. Tapi untuk menjadi partner belajar. Menjadi kaki saat kita lumpuh, menjadi lampu saat kita melihat terlalu gelap. Mulai sekarang, saya mencoba belajar bersyukur dan mengerti. Karena memang, peran yang kita mainkan tak akan berjalan seperti aktor lucu yang sepertinya tidak memiliki beban.
Well, seperti kata Indomie, ini bahagiaku, bagaimana bahagiamu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar